Pernah nggak sih kita merasa asing dengan pekerjaan yang setiap hari kita lakukan? Bayangkan seorang buruh di pabrik sepatu. Setiap hari ia menghabiskan waktu berjam-jam untuk memotong bahan, menjahit, merakit, hingga menghasilkan ratusan pasang sepatu. Ironisnya, dengan gaji yang diterimanya, ia mungkin justru kesulitan ketika ingin membeli sepatu yang diproduksinya sendiri. Di sinilah kita bisa mulai memahami pertanyaan Karl Marx tentang alienasi: bagaimana mungkin seseorang mencurahkan tenaga untuk menghasilkan sesuatu, tetapi hasil dari kerja itu terasa begitu jauh dari kehidupannya sendiri?
Untuk Apa Kita Bekerja?
Bagi Marx, kerja bukan sekadar cara mendapatkan uang. Melalui kerja, manusia menggunakan kemampuan dan tenaganya untuk menghasilkan sesuatu. Petani mengolah tanah, pengrajin membuat barang, dan buruh mengubah bahan mentah menjadi produk yang berguna. Dalam pengertian ini, kerja merupakan bagian penting dari kehidupan manusia karena melalui kerja seseorang dapat mengekspresikan kemampuan dirinya.
Namun, dalam sistem kapitalisme, hubungan manusia dengan kerja dapat berubah. Buruh tidak memiliki pabrik, mesin, bahan baku, atau produk yang dihasilkannya. Ia terutama memiliki tenaga kerjanya sendiri. Tenaga tersebut kemudian dijual kepada pemilik modal melalui sistem upah.
Akibatnya, seseorang bekerja bukan sepenuhnya karena pekerjaan itu merupakan tujuan bagi dirinya, tetapi karena ia membutuhkan upah untuk memenuhi kebutuhan hidup. Waktu, tenaga, dan aktivitasnya harus mengikuti aturan produksi. Kerja yang seharusnya menjadi bagian dari kehidupan manusia dapat berubah menjadi sesuatu yang terasa berada di luar dirinya.
Dari Kerja ke Nilai
Marx tidak berhenti pada persoalan pengalaman buruh. Ia juga bertanya bagaimana kapitalisme memperoleh keuntungan dari proses kerja tersebut.
Dalam produksi kapitalis, tenaga kerja digunakan untuk menghasilkan barang sekaligus menciptakan nilai. Persoalannya, tenaga kerja dapat menciptakan nilai yang lebih besar daripada nilai yang dibayarkan kepada pekerja melalui upah. Perbedaan inilah yang dalam pemikiran Marx disebut sebagai nilai lebih atau surplus value.
Sederhananya, buruh bekerja selama satu hari, tetapi nilai yang dihasilkan selama waktu kerjanya tidak seluruhnya kembali kepadanya sebagai upah. Sebagian menjadi nilai lebih yang berada dalam proses akumulasi kapital. Nilai tersebut kemudian dapat digunakan untuk memperbesar usaha, membeli mesin, meningkatkan produksi, atau mengembangkan modal.
Karena itu, produksi dalam kapitalisme tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan manusia. Produksi juga menjadi bagian dari proses memperbesar kapital.
Ketika Hasil Menjadi Asing
Di sinilah gagasan alienasi Marx menjadi penting.
Buruh membuat sepatu, tetapi sepatu itu bukan miliknya. Ia mencurahkan tenaga untuk menghasilkan produk, tetapi perusahaan yang memiliki alat produksi menentukan bagaimana produk tersebut dibuat dan ke mana produk itu dijual. Hasil kerja yang berasal dari tenaga manusia akhirnya berdiri sebagai sesuatu yang berada di luar kendali orang yang membuatnya.
Alienasi juga tidak hanya terjadi pada produk. Buruh dapat mengalami keterasingan dari aktivitas kerjanya sendiri. Ia bekerja selama berjam-jam dengan mengikuti target dan aturan yang ditentukan oleh perusahaan. Pekerjaan menjadi sarana untuk memperoleh upah, bukan aktivitas yang sepenuhnya ia kendalikan atau gunakan untuk mengembangkan dirinya.
Dalam kondisi tersebut, manusia dapat merasa lebih menjadi dirinya sendiri ketika tidak bekerja. Kerja yang seharusnya menjadi aktivitas manusia justru terasa seperti sesuatu yang harus dijalani demi bertahan hidup.
Siapa Menguasai Hasilnya?
Persoalan ini kemudian membawa Marx pada hubungan antara buruh dan pemilik modal. Pemilik modal memiliki alat produksi, sedangkan buruh menjual tenaga kerjanya. Posisi yang berbeda tersebut membuat keduanya memiliki hubungan yang tidak setara dalam proses produksi.
Buruh menghasilkan barang dan nilai, tetapi keputusan mengenai produksi, kepemilikan, dan penggunaan hasil produksi berada terutama di tangan pemilik modal. Karena itu, semakin besar produksi berkembang, semakin besar pula kapital yang dapat terakumulasi.
Di sini terdapat sebuah paradoks. Manusia menggunakan tenaga dan pikirannya untuk menciptakan kekayaan, tetapi kekayaan yang dihasilkannya dapat berdiri di luar dirinya dan justru menjadi kekuatan yang mengatur kehidupannya.
Buruh membuat sepatu. Perusahaan menjualnya. Kapital bertambah. Sementara buruh kembali bekerja untuk mendapatkan upah yang tidak seberapa.
Pertanyaan Marx
Itulah sisi lain kapitalisme yang ingin dibongkar Marx. Ia tidak hanya bertanya tentang harga barang, besarnya upah, atau bagaimana keuntungan diperoleh. Ia mempertanyakan hubungan manusia dengan kerja yang dilakukannya sendiri.
Jika manusia menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk bekerja, tetapi hasil dan proses kerjanya berada di luar kendalinya, apa sebenarnya yang hilang dari manusia?
Bagi Marx, persoalannya bukan sekadar siapa yang memiliki lebih banyak uang. Persoalannya adalah ketika manusia yang menciptakan kekayaan justru semakin jauh dari apa yang ia ciptakan sendiri.
Dan mungkin, di situlah kritik Marx terhadap kapitalisme menjadi paling tajam: bukan hanya tentang bagaimana kekayaan diproduksi, tetapi tentang siapa yang menguasainya dan apa yang terjadi pada manusia yang memproduksinya.

