Dari Ekonom, Peneliti, hingga Kandidat Gubernur Bank Indonesia
Nama Destry Damayanti kembali menjadi perhatian publik Indonesia.
Bukan sekadar karena ia merupakan salah satu ekonom perempuan berpengalaman di Indonesia, tetapi karena perjalanan kariernya kini membawanya ke salah satu posisi paling strategis dalam perekonomian nasional: Gubernur Bank Indonesia.
Pada 10 Agustus 2026, Presiden Prabowo Subianto mengusulkan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia kepada DPR. Jika mendapat persetujuan parlemen, Destry berpotensi menjadi perempuan pertama yang secara permanen memimpin bank sentral Indonesia.
Namun, sebelum sampai pada titik tersebut, perjalanan Destry bukanlah perjalanan yang singkat.
Ia telah melewati dunia akademik, riset ekonomi, perbankan, pasar keuangan, pemerintahan, Lembaga Penjamin Simpanan, hingga akhirnya menjadi bagian dari pimpinan Bank Indonesia.
1. Berawal dari Dunia Akademik
Destry Damayanti lahir di Jakarta pada 1963.
Ia menempuh pendidikan ekonomi di Universitas Indonesia dan kemudian melanjutkan pendidikan ke Cornell University, Amerika Serikat, untuk memperoleh gelar Master of Science di bidang Regional Science.
Latar belakang akademik tersebut menjadi fondasi penting dalam perjalanan profesionalnya.
Ekonomi bukan sekadar angka.
Di balik angka pertumbuhan ekonomi terdapat persoalan mengenai masyarakat, wilayah, investasi, lapangan pekerjaan, daya beli, hingga distribusi sumber daya.
Karena itu, pengalaman akademik Destry memberikan dasar analitis yang kemudian membentuk perjalanan kariernya sebagai ekonom.
2. Menjadi Ekonom dan Pengamat Ekonomi
Karier Destry berkembang di berbagai institusi.
Ia pernah menjadi Senior Economic Adviser bagi Duta Besar Inggris untuk Indonesia pada 2000–2003.
Ia juga memiliki pengalaman sebagai peneliti dan pengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Setelah itu, kariernya berkembang ke sektor pasar modal dan perbankan. Destry pernah menjadi Chief Economist di Mandiri Sekuritas dan kemudian Chief Economist Bank Mandiri.
Posisi sebagai chief economist membuatnya tidak hanya berhadapan dengan teori ekonomi, tetapi juga dengan realitas pasar.
Seorang ekonom yang berada di sektor keuangan harus membaca banyak hal sekaligus:
inflasi, suku bunga, nilai tukar, investasi, pertumbuhan ekonomi, pasar global, kebijakan pemerintah, dan perilaku pelaku pasar.
Di sinilah pengalaman Destry menjadi penting.
Ia tidak hanya melihat ekonomi dari ruang kelas, tetapi juga dari dunia bisnis dan pasar keuangan.
3. Masuk ke Wilayah Kebijakan Publik
Pengalaman Destry kemudian berkembang ke wilayah pemerintahan.
Ia pernah dipercaya menjadi Ketua Satuan Tugas Ekonomi di bawah Kementerian BUMN pada 2014–2015.
Setelah itu, Destry menjabat sebagai anggota Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan atau LPS untuk periode 2015–2019.
Pengalaman tersebut memperluas perspektifnya.
Jika sebelumnya ia banyak melihat ekonomi dari perspektif pasar dan korporasi, di pemerintahan dan LPS ia berhadapan dengan persoalan yang lebih luas.
Stabilitas sistem keuangan tidak hanya menyangkut satu perusahaan atau satu bank.
Jika terjadi gangguan besar pada sektor keuangan, dampaknya dapat menjalar ke masyarakat luas.
Karena itu, seorang pengambil kebijakan harus mampu berpikir mengenai risiko sistemik, bukan hanya keuntungan individual.
4. Masuk ke Bank Indonesia
Tahun 2019 menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan karier Destry.
Ia resmi menjadi Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia setelah dilantik pada 7 Agustus 2019. Masa jabatan tersebut kemudian diperbarui untuk periode 2024–2029.
Posisi Deputi Gubernur Senior merupakan salah satu posisi paling penting dalam struktur Bank Indonesia.
Bank Indonesia sendiri memiliki tugas yang sangat strategis bagi perekonomian Indonesia.
Kebijakan bank sentral dapat memengaruhi:
- inflasi;
- nilai tukar rupiah;
- suku bunga;
- likuiditas;
- stabilitas sistem keuangan;
- dan kondisi perekonomian secara keseluruhan.
Karena itu, pengalaman Destry selama bertahun-tahun di sektor ekonomi dan keuangan menjadi modal penting ketika ia berada di Bank Indonesia.
5. Ketika Destry Harus Memimpin Bank Indonesia
Perubahan besar terjadi pada Juli 2026.
Perry Warjiyo mengundurkan diri dari jabatan Gubernur Bank Indonesia karena alasan pribadi. Setelah posisi tersebut kosong, Destry sebagai Deputi Gubernur Senior menjalankan tugas sebagai pejabat Gubernur sementara sesuai mekanisme yang berlaku.
Situasi tersebut membuat Destry harus berada di pusat perhatian.
Pasar keuangan membutuhkan kepastian.
Pelaku usaha membutuhkan stabilitas.
Investor membutuhkan kepercayaan.
Masyarakat membutuhkan rupiah yang stabil dan inflasi yang terkendali.
Sementara itu, pemerintah juga memiliki target pertumbuhan ekonomi yang ambisius.
Di sinilah posisi Gubernur Bank Indonesia menjadi sangat penting.
6. Bank Indonesia: Antara Stabilitas dan Pertumbuhan
Bank sentral selalu menghadapi dilema besar.
Di satu sisi, ekonomi membutuhkan pertumbuhan.
Di sisi lain, pertumbuhan yang terlalu cepat dapat menimbulkan tekanan inflasi dan ketidakseimbangan ekonomi.
Karena itu, kebijakan moneter harus mencari keseimbangan.
Jika suku bunga terlalu tinggi, aktivitas ekonomi dapat melemah.
Tetapi jika kebijakan terlalu longgar ketika tekanan inflasi meningkat, stabilitas harga dapat terganggu.
Begitu pula dengan nilai tukar.
Rupiah yang terlalu lemah dapat meningkatkan biaya barang impor dan memberikan tekanan terhadap inflasi.
Namun, kebijakan untuk menjaga rupiah juga harus mempertimbangkan kondisi pertumbuhan ekonomi.
Dengan kata lain, seorang gubernur bank sentral tidak hanya berhadapan dengan satu masalah.
Ia harus mengelola keseimbangan.
7. Tantangan Destry di Tengah Ketidakpastian Global
Destry mengambil panggung kepemimpinan BI pada periode yang tidak sederhana.
Perekonomian global masih menghadapi berbagai ketidakpastian.
Pergerakan suku bunga global, kebijakan negara-negara besar, harga komoditas, geopolitik, arus modal, dan pergerakan dolar Amerika Serikat dapat memengaruhi nilai tukar rupiah serta pasar keuangan Indonesia.
Karena itu, tantangan terbesar bukan sekadar menetapkan satu angka suku bunga.
Tantangannya adalah bagaimana membaca arah ekonomi sebelum perubahan besar terjadi.
Seorang bank sentral harus berpikir beberapa langkah ke depan.
Ketika pasar sudah bergerak, kebijakan sering kali sudah terlambat jika baru dibuat setelah masalah muncul.
8. Destry dan Masa Depan Rupiah
Salah satu perhatian terbesar terhadap kepemimpinan Destry tentu adalah nilai tukar rupiah.
Rupiah bukan hanya angka di layar pasar valuta asing.
Nilai rupiah berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.
Ketika rupiah melemah terlalu dalam, harga barang impor dapat meningkat.
Bahan baku industri dapat menjadi lebih mahal.
Biaya produksi dapat naik.
Pada akhirnya, tekanan tersebut dapat berpengaruh terhadap harga barang yang dibayar masyarakat.
Karena itu, menjaga stabilitas rupiah merupakan salah satu bagian penting dari menjaga stabilitas ekonomi.
Reuters melaporkan bahwa pencalonan Destry sebagai gubernur BI mendapat respons positif dari pasar, dengan rupiah menguat setelah berita pencalonannya muncul. Namun, respons pasar tidak boleh dibaca sebagai jaminan keberhasilan kebijakan ke depan karena banyak faktor global dan domestik tetap menentukan pergerakan rupiah.
9. Mengapa Destry Menjadi Figur Penting?
Ada satu hal yang menarik dari perjalanan Destry.
Ia bukan tokoh yang tiba-tiba muncul ketika kursi Gubernur Bank Indonesia kosong.
Kariernya telah melewati berbagai tahapan.
Akademisi.
Peneliti.
Ekonom pasar keuangan.
Ekonom perbankan.
Pengambil kebijakan.
Komisioner LPS.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia.
Dan kini:
calon Gubernur Bank Indonesia.
Perjalanan tersebut membuat Destry memiliki pengalaman dari berbagai sisi ekonomi.
Ia memahami pasar.
Ia memahami perbankan.
Ia memahami kebijakan publik.
Dan ia telah berada cukup lama di dalam bank sentral.
10. Perempuan di Puncak Bank Sentral
Jika pencalonannya disetujui DPR, Destry akan mencatat sejarah sebagai perempuan pertama yang memimpin Bank Indonesia secara permanen.
Hal ini bukan sekadar simbol.
Kehadiran perempuan di posisi puncak lembaga ekonomi menunjukkan bahwa kepemimpinan ekonomi tidak hanya dimiliki oleh satu kelompok.
Namun, tantangan bagi Destry tidak akan menjadi lebih ringan hanya karena sejarah tersebut.
Justru sebaliknya.
Jika terpilih, masyarakat akan menilai kepemimpinannya berdasarkan hasil.
Apakah inflasi terkendali?
Apakah rupiah stabil?
Apakah sistem keuangan aman?
Apakah kebijakan moneter mampu mendukung perekonomian?
Dan yang paling penting:
apakah kebijakan Bank Indonesia mampu menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan?
11. Bukan Sekadar Soal Suku Bunga
Masyarakat sering mengenal Bank Indonesia melalui satu instrumen: suku bunga.
Padahal, pekerjaan bank sentral jauh lebih kompleks.
Di balik sebuah keputusan moneter terdapat berbagai pertimbangan.
Bagaimana kondisi inflasi?
Bagaimana konsumsi masyarakat?
Bagaimana investasi?
Bagaimana pertumbuhan kredit?
Bagaimana nilai tukar?
Bagaimana kondisi ekonomi global?
Bagaimana arus modal?
Bagaimana ekspektasi pasar?
Semua variabel tersebut saling berhubungan.
Karena itu, kepemimpinan Destry nantinya akan diuji bukan oleh satu keputusan, melainkan oleh kemampuannya mengelola keseluruhan sistem.
12. Masa Depan yang Tidak Mudah
Pencalonan Destry datang pada saat ekonomi Indonesia berada dalam situasi yang membutuhkan kehati-hatian.
Pemerintah ingin mendorong pertumbuhan ekonomi.
Pasar menginginkan kepastian.
Masyarakat membutuhkan stabilitas harga.
Pelaku usaha membutuhkan kredit dan likuiditas.
Investor membutuhkan kepercayaan.
Bank Indonesia harus berada di tengah-tengah kepentingan tersebut.
Di satu sisi, bank sentral harus mampu berkoordinasi dengan pemerintah.
Di sisi lain, kredibilitas dan independensi kebijakan moneter tetap menjadi perhatian penting.
Reuters dan Financial Times sama-sama menyoroti bahwa pencalonan Destry dipandang pasar sebagai pilihan yang relatif berpengalaman dan berorientasi pada kesinambungan, tetapi sekaligus menempatkan isu independensi bank sentral dan hubungan kebijakan moneter-fiskal sebagai perhatian penting.
Destry Damayanti bukan sekadar nama yang muncul karena pergantian Gubernur Bank Indonesia.
Ia adalah seorang ekonom yang telah menjalani perjalanan panjang di dunia akademik, pasar keuangan, perbankan, pemerintahan, LPS, hingga bank sentral.
Kini, perjalanan tersebut membawanya ke titik paling menentukan.
Jika DPR menyetujui pencalonannya, Destry akan menghadapi tugas besar: menjaga stabilitas moneter sekaligus menghadapi tuntutan pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukan hanya:
“Siapa Destry Damayanti?”
Tetapi:
“Mampukah Destry membawa Bank Indonesia melewati periode ekonomi yang penuh ketidakpastian?”
Jawabannya tidak akan ditentukan oleh gelar akademik atau panjangnya daftar pengalaman.
Jawabannya akan terlihat dari kebijakan.
Dari rupiah.
Dari inflasi.
Dari stabilitas sistem keuangan.
Dan pada akhirnya, dari bagaimana masyarakat merasakan kondisi ekonomi Indonesia.
Karena bagi masyarakat biasa, ekonomi tidak pernah berhenti pada grafik.
Ekonomi adalah harga kebutuhan sehari-hari.
Ekonomi adalah cicilan.
Ekonomi adalah pekerjaan.
Ekonomi adalah tabungan.
Dan ekonomi adalah tentang seberapa jauh pendapatan mampu memenuhi kebutuhan hidup.
Di situlah kepemimpinan Destry Damayanti akan benar-benar diuji.

