Pernahkah kita merasa malas bekerja karena pekerjaan yang kita jalani hanya kita lihat sebagai cara untuk mendapatkan uang? Coba bayangkan jika orientasi itu digeser sedikit: bagaimana jika kita bekerja bukan semata-mata untuk mengejar kekayaan, melainkan karena pekerjaan yang kita jalani merupakan bagian dari panggilan Tuhan?

Mungkin pekerjaan yang sama akan terasa berbeda ketika kita melihatnya bukan hanya sebagai sumber penghasilan, tetapi sebagai tanggung jawab yang harus dijalankan sebaik mungkin. Gagasan semacam inilah yang dapat ditemukan dalam pemikiran John Calvin. Bagi tokoh Reformasi abad ke-16 ini, pekerjaan sehari-hari bukan sesuatu yang terpisah dari kehidupan religius. Bekerja dapat menjadi salah satu cara manusia menjalankan panggilan dan tanggung jawabnya di hadapan Tuhan.

Kerja sebagai Panggilan Tuhan

John Calvin (1509–1564) memahami kehidupan manusia sebagai kehidupan yang memiliki tanggung jawab di hadapan Tuhan. Karena itu, kesalehan tidak hanya ditunjukkan melalui doa dan ibadah, tetapi juga melalui bagaimana seseorang menjalankan tugasnya dalam kehidupan sehari-hari.

Gagasan tersebut berkaitan dengan konsep vocation atau panggilan. Seorang petani, pedagang, pengrajin, pejabat, maupun pekerja dalam profesi lainnya memiliki tempat dan tugas masing-masing. Pekerjaan tidak hanya dinilai dari seberapa besar keuntungan yang diperoleh, tetapi juga dari bagaimana pekerjaan tersebut dijalankan.

Dengan cara pandang ini, bekerja dengan jujur, disiplin, bertanggung jawab, dan memberikan manfaat bagi orang lain dapat menjadi bagian dari panggilan hidup. Kesalehan tidak harus diwujudkan dengan meninggalkan kehidupan duniawi. Justru melalui pekerjaan sehari-hari, seseorang dapat menjalankan tanggung jawabnya kepada Tuhan dan sesama.

Ketika Kerja Tidak Sekadar Mencari Uang

Pandangan tersebut membuat kerja memperoleh makna yang lebih luas. Dalam kehidupan modern, seseorang biasanya bekerja untuk mendapatkan penghasilan, memenuhi kebutuhan, membangun karier, atau memperoleh kehidupan yang lebih baik. Semua itu tidak salah. Namun, ketika uang menjadi satu-satunya ukuran, pekerjaan mudah kehilangan maknanya.

Calvin menawarkan cara pandang yang berbeda. Kerja bukan hanya sarana memperoleh keuntungan, tetapi juga ruang untuk menjalankan tanggung jawab moral. Seorang pedagang, misalnya, tidak cukup hanya memikirkan berapa besar keuntungan yang diperoleh. Ia juga dituntut untuk berlaku jujur dan adil dalam transaksi.

Dengan demikian, bekerja keras tidak semata-mata berarti mengejar kekayaan. Ada nilai moral yang melekat pada pekerjaan itu sendiri. Seseorang bekerja dengan baik bukan hanya karena ingin mendapatkan imbalan, tetapi karena ia menganggap pekerjaannya sebagai bagian dari tanggung jawab hidup.

Calvin, Kekayaan, dan Tanggung Jawab Sosial

Meski demikian, Calvin tidak memusuhi kekayaan. Harta dapat dimiliki dan dinikmati, tetapi tidak boleh menguasai manusia. Kekayaan harus ditempatkan dalam kerangka tanggung jawab, termasuk tanggung jawab terhadap mereka yang membutuhkan.

Karena itu, etika ekonomi Calvin tidak dapat dipahami sebagai ajakan untuk menjadi kaya sebanyak-banyaknya. Yang penting bukan hanya bagaimana kekayaan diperoleh, tetapi juga bagaimana kekayaan digunakan. Keuntungan yang diperoleh dari pekerjaan tidak seharusnya membuat seseorang terjebak dalam keserakahan atau melupakan kewajibannya terhadap sesama.

Di sini terlihat bahwa kerja dan kekayaan memiliki hubungan yang erat dengan moralitas. Manusia boleh mencari keuntungan, tetapi keuntungan tersebut bukan tujuan tertinggi. Pekerjaan tetap harus dijalankan dalam batas keadilan dan tanggung jawab.

Dari Calvin ke Etos Kerja Modern

Gagasan Calvin tentang panggilan kemudian menjadi penting dalam pembahasan Max Weber mengenai hubungan antara agama dan kapitalisme. Dalam The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism, Weber melihat bahwa etika Protestan asketik, terutama Calvinisme, ikut membentuk pola kehidupan yang menekankan disiplin, kerja keras, pengendalian konsumsi, dan keteraturan hidup.

Namun, bukan berarti Calvin secara langsung menciptakan kapitalisme modern. Hubungan antara Calvinisme dan kapitalisme jauh lebih kompleks. Perkembangan kapitalisme juga dipengaruhi oleh perdagangan, hukum, politik, teknologi, dan perubahan struktur sosial.

Yang penting dari pembacaan Weber adalah perubahan cara memandang kerja. Ketika pekerjaan dipahami sebagai calling, bekerja dengan disiplin dapat memperoleh makna religius. Seseorang tidak hanya bekerja karena membutuhkan uang, tetapi karena merasa memiliki tanggung jawab untuk menjalankan tugasnya dengan baik.

Ketika Kerja Memiliki Makna

Pemikiran Calvin menarik karena ia menggeser pertanyaan tentang kerja dari “berapa banyak yang bisa saya dapatkan?” menjadi “untuk apa saya bekerja?”. Pergeseran kecil ini dapat mengubah cara seseorang memandang pekerjaannya. Pekerjaan yang sama dapat terasa berbeda ketika ia tidak lagi dipahami hanya sebagai alat memperoleh uang, tetapi sebagai bagian dari tanggung jawab dan panggilan hidup.

Mungkin kita tidak selalu bisa memilih pekerjaan yang kita sukai. Namun, kita masih dapat memilih cara memandang pekerjaan tersebut. Jika bekerja bukan hanya tentang mengejar kekayaan, tetapi juga tentang menjalankan tanggung jawab yang dipercayakan Tuhan, bukankah pekerjaan yang selama ini terasa berat bisa memiliki alasan yang lebih dalam untuk tetap kita jalani?

Avatar photo

By Muhammad Rizky Shorfana

S1 Aqidah Filsafat UIN SUNAN AMPEL SURABAYA S2 Aqidah Filsafat UIN SUNAN AMPEL JOGJAKARTA Co-Founder Keuanganhub