Waled NU Samalanga: Ulama yang Membangun Peradaban Santri dan Kemandirian Ekonomi Aceh

Di sebuah sudut Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen, Aceh, berdiri sebuah dayah yang tak pernah sepi dari lantunan kitab kuning, suara hafalan Al-Qur’an, dan langkah ribuan santri yang datang dari berbagai penjuru Nusantara. Di balik tumbuh besarnya Dayah Ummul Ayman, ada seorang ulama yang akrab disapa Waled NU Samalanga: Tgk. H. Nuruzzahri Yahya.

Bagi masyarakat Aceh, nama Waled NU bukan sekadar pimpinan pesantren. Ia adalah guru, pendidik, tokoh sosial, sekaligus arsitek kemandirian ekonomi pesantren. Dari tangan dinginnya, sebuah rawa yang dahulu menjadi tempat pembuangan sampah berubah menjadi pusat pendidikan Islam yang melahirkan ribuan kader ulama dan pemimpin masyarakat. Kisah hidupnya adalah kisah tentang khidmah, perjuangan, dan ikhtiar membangun umat dari bawah.

Santri yang Ditempa Kesederhanaan

Nuruzzahri Yahya lahir pada tahun 1951 di Gampong Mideun Jok, Samalanga. Ia merupakan putra sulung Tgk. H. Yahya, seorang ulama sekaligus pedagang hasil bumi yang cukup dikenal di kawasan Bireuen. Sejak kecil, kehidupan Nuruzzahri jauh dari kemewahan, meski keluarganya memiliki usaha perdagangan. Ayahnya justru mendidik anak-anaknya agar mandiri dan tidak bergantung pada kekayaan keluarga. Bahkan ketika remaja, Nuruzzahri turun ke sawah membawa cangkul seperti petani biasa sebagai bagian dari pendidikan karakter. Sang ayah percaya, santri harus mengenal keringat sebelum mengenal kepemimpinan.

Dalam tradisi Aceh, pendidikan agama dimulai dari rumoh beuet—surau sederhana tempat anak-anak mengaji selepas Magrib. Di rumah kayu yang diterangi lampu minyak itulah Nuruzzahri belajar Al-Qur’an bersama masyarakat kampung. Dari sana lahir kecintaannya terhadap ilmu.

Tahun 1964, ia mulai meudagang—istilah Aceh untuk mondok—di Dayah MUDI Mesra Samalanga di bawah asuhan ulama besar Aceh, Abon Abdul Aziz Shaleh. Selama sepuluh tahun ia hidup sebagai santri tulen: tidur di bale, mengaji kitab hingga larut malam, menghafal matan, sekaligus aktif dalam organisasi santri. Di mata gurunya, Nuruzzahri dikenal sebagai santri yang disiplin dan memiliki bakat memimpin.Sebuah nasihat Abon Aziz yang selalu dikenangnya berbunyi:

“Tugas santri adalah belajar. Jangan sibuk mengejar yang baik sampai melupakan yang paling utama.”

Kalimat itu menjadi prinsip hidup Waled NU dalam membangun pendidikan.

Menjelajah Ilmu Hingga Tanah Jawa

Kehausannya terhadap ilmu membawa Nuruzzahri hijrah ke Jombang, Jawa Timur, pada 1974. Ia sempat belajar di Fakultas Syariah Universitas Hasyim Asy’ari sebelum memilih memperdalam ilmu hadis di Pondok Pesantren Darul Hadits Jombang di bawah bimbingan Syekh Abdullah bin Faqih.

Perjalanan intelektual di Jawa memberi warna baru dalam pandangannya tentang pendidikan. Ia melihat pesantren tidak hanya menjadi tempat mengkaji kitab, tetapi juga pusat pembentukan peradaban umat. Sekembalinya ke Aceh, ia membawa mimpi besar: mendirikan pesantren yang tetap berakar pada tradisi salafiyah namun mampu menjawab tantangan zaman.

Dari Konflik Aceh Lahir Ummul Ayman

Awal 1990-an menjadi masa paling kelam dalam sejarah Aceh. Konflik bersenjata membuat ribuan anak kehilangan orang tua. Sekolah terbakar, kampung-kampung kosong, dan banyak anak hidup di barak pengungsian.

Melihat kenyataan itu, Nuruzzahri Yahya mengambil keputusan yang mengubah sejarah hidupnya. Tahun 1990 ia mendirikan Panti Asuhan Ummul Ayman untuk menampung anak-anak yatim korban konflik. Nama Ummul Ayman diambil dari pengasuh Nabi Muhammad SAW, simbol kasih sayang bagi anak-anak yang kehilangan ibu dan ayah.

Tempat pertama Ummul Ayman sangat sederhana. Berdiri di atas lahan rawa sedalam tiga meter yang diuruk sedikit demi sedikit secara gotong royong masyarakat. Saat hujan turun, air menggenangi lantai kayu tempat anak-anak tidur dan belajar mengaji.

Namun bagi Waled NU, keterbatasan bukan alasan berhenti.

Ia berkeliling dari desa ke desa, berceramah, menggalang wakaf, meminta sumbangan pembangunan dayah. Pernah suatu malam sepulang ceramah dari Geumpang, Pidie, ia dihadang perampok ketika membawa uang hasil donasi pembangunan pesantren. Dengan sepeda motor Vespa tuanya, ia berhasil menyelamatkan dana amanah masyarakat itu. Kisah tersebut hingga kini menjadi cerita yang sering dikenang santri sebagai simbol keberanian menjaga amanah.

Tahun 1991, Ummul Ayman resmi menjadi yayasan pendidikan dengan tiga layanan utama: panti asuhan, dayah salafiyah, dan sekolah formal. Dari puluhan anak yatim, kini berkembang menjadi ribuan santri.

Filosofi Santri: Kitab Kuning Bertemu Sekolah Modern

Waled NU memperkenalkan konsep yang ia sebut dayah semi terpadu.

Bukan pesantren modern sepenuhnya, tetapi juga bukan dayah tradisional yang menolak sekolah formal. Santri tetap mengenakan sarung, peci, belajar di bale-bale kayu, mengaji kitab kuning dengan metode halaqah, namun di saat yang sama mengikuti pendidikan formal dari SMP, MA, hingga perguruan tinggi.

Dalam pandangannya:

“Ilmu agama adalah pondasi, ilmu umum adalah alat perjuangan.”

Karena itu kurikulum Ummul Ayman menyandingkan fikih, tafsir, hadis, nahwu-sharaf dengan matematika, sains, bahasa Inggris, teknologi, dan keterampilan hidup.

Santri juga diwajibkan menggunakan bahasa Arab, Indonesia, dan Inggris dalam lingkungan tertentu agar memiliki keberanian berkomunikasi di tingkat nasional maupun internasional.

Waled NU dan Jalan Ekonomi Pesantren

Inilah sisi yang jarang dibahas dari Nuruzzahri Yahya: ekonomi pesantren.

Bagi Waled NU, pesantren tidak boleh menjadi lembaga yang hanya menunggu bantuan pemerintah atau donatur. Ia meyakini prinsip yang sering diajarkan dalam tradisi santri:

“Tangan di atas lebih mulia daripada tangan di bawah.”

Prinsip itu diterjemahkan menjadi kemandirian ekonomi dayah.

1. Wakaf Produktif Sebagai Pondasi

Pembangunan Ummul Ayman dimulai dari tanah wakaf masyarakat. Tetapi wakaf tidak berhenti menjadi bangunan masjid atau asrama. Tanah-tanah wakaf kemudian dikembangkan menjadi aset produktif yang menopang operasional pesantren.

2. Pertanian dan Peternakan Santri

Santri dilibatkan dalam aktivitas pertanian sebagai pendidikan karakter sekaligus ekonomi. Mereka belajar mengolah sawah, berkebun, dan memanfaatkan lahan pesantren.

Dalam filosofi Waled NU, mencangkul sawah bukan pekerjaan rendah. Justru santri harus memahami bahwa rezeki lahir dari kerja keras, bukan gengsi.

3. Koperasi Pesantren

Nuruzzahri Yahya juga mendorong pembentukan koperasi sebagai instrumen ekonomi umat. Koperasi diposisikan bukan sekadar toko kebutuhan santri, tetapi pusat perputaran ekonomi pesantren dan masyarakat sekitar. Model ini kemudian mendapat perhatian dalam program pengembangan kemandirian ekonomi pesantren yang didukung Bank Indonesia.

4. Life Skill untuk Santri

Menurut Waled NU, santri harus memiliki maharah al-hayah—keterampilan hidup. Karena itu Ummul Ayman mengembangkan pelatihan kewirausahaan, keterampilan kerja, hingga pengelolaan usaha kecil agar lulusan dayah mampu berdiri di atas kaki sendiri.

Dakwah yang Membumi

Ceramah Waled NU dikenal memiliki ciri khas: suara lantang, logat Aceh yang kuat, namun penuh hikmah. Ia tidak hanya berbicara soal ibadah, tetapi juga pendidikan, kemiskinan, persatuan umat, dan moralitas sosial.

Rumahnya selalu terbuka. Masyarakat datang meminta nasihat, menyelesaikan konflik keluarga, persoalan warisan, hingga sengketa kampung. Tanpa ajudan dan protokoler, ia menerima tamu di teras rumah dengan kursi plastik sederhana.

Dalam tradisi santri Aceh, inilah makna khidmah: melayani umat tanpa membedakan status sosial.

Kiprah Organisasi dan Politik Kebangsaan

Selain memimpin Dayah Ummul Ayman, Nuruzzahri Yahya aktif di berbagai organisasi keagamaan.

Ia pernah menjadi Ketua Syuriah dan kemudian Ketua Tanfidziyah PW Nahdlatul Ulama Aceh, pengurus Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA), serta anggota Dewan Paripurna Ulama Aceh.

Meski aktif dalam organisasi, Waled NU berulang kali menegaskan bahwa ulama harus menjaga independensi moral.

Ia mendukung santri masuk dunia politik, tetapi dengan syarat memiliki ilmu, integritas, dan kemampuan memperjuangkan aspirasi umat. Baginya politik adalah wasilah, bukan tujuan.

Menembus Dunia Internasional

Pada 2002, Waled NU mengikuti pelatihan kepemimpinan pendidikan di Amerika Serikat melalui Institute Training and Development (ITD-USA).

Pengalaman itu memperluas pandangannya tentang sistem pendidikan global. Ia melihat bahwa pendidikan Islam di negara minoritas Muslim pun mampu berkembang jika memiliki manajemen yang baik dan sumber daya manusia yang kuat. Sepulang dari Amerika, sejumlah gagasan penguatan mutu pendidikan diterapkan di Ummul Ayman.

Warisan Peradaban

Hari ini, Dayah Ummul Ayman bukan hanya pesantren.

Ia telah berkembang menjadi ekosistem pendidikan yang mencakup panti asuhan, sekolah formal, perguruan tinggi Islam, lembaga bahasa, koperasi, dan jaringan alumni yang tersebar di Aceh hingga luar daerah. Penelitian akademik menyebut kepemimpinan Nuruzzahri Yahya sebagai contoh kepemimpinan karismatik yang berhasil memadukan tradisi dayah dengan kebutuhan pendidikan modern.

Prestasi santri di tingkat provinsi dan nasional terus mengalir, memperlihatkan bahwa model pendidikan yang dibangun Waled NU mampu menghasilkan lulusan yang kompetitif tanpa kehilangan identitas keislaman.

Penutup: Ulama yang Menghidupkan Ekonomi Umat

Dalam tradisi pesantren, seorang waled bukan hanya guru kitab. Ia adalah orang tua bagi santri, pengayom masyarakat, dan penanggung jawab masa depan umat.

Tgk. H. Nuruzzahri Yahya menunjukkan bahwa membangun pesantren tidak cukup dengan ilmu, tetapi juga keberanian membaca realitas sosial dan ekonomi. Ia mengajarkan bahwa santri harus alim dalam agama sekaligus mandiri dalam ekonomi; kuat memegang kitab, tetapi juga mampu mengelola sawah, koperasi, dan usaha umat.

Dari Samalanga, ia membuktikan bahwa peradaban besar dapat lahir dari sebuah bale kayu di tengah rawa, selama dibangun dengan keikhlasan, wakaf, dan khidmah kepada Allah serta masyarakat. Itulah jejak Waled NU Samalanga—ulama yang menjadikan pesantren sebagai pusat ilmu, pusat ekonomi, dan pusat peradaban Aceh.