Bukan soal pekerjaan yang membuat seseorang tidak setia. Lingkungan kerja, tekanan, waktu kerja, dan kedekatan dengan rekan kerja justru menjadi sejumlah faktor yang perlu diperhatikan.
Perselingkuhan selama ini kerap dikaitkan dengan karakter seseorang. Namun ketika persoalan itu dibawa ke lingkungan profesional, muncul pertanyaan menarik: apakah ada jenis pekerjaan tertentu yang membuat seseorang lebih rentan terlibat hubungan di luar pasangan?
Sejumlah survei dan penelitian mencoba menjawab pertanyaan tersebut. Hasilnya cukup menarik, tetapi juga perlu dibaca secara hati-hati.
Salah satu survei terbaru yang dipublikasikan pada Januari 2026 oleh situs kencan bagi orang yang telah menikah, Illicit Encounters, menempatkan pekerja di sektor politik sebagai kelompok yang paling banyak diasosiasikan dengan perselingkuhan oleh responden.
Dalam survei terhadap 3.000 orang dewasa di Inggris, sektor politik berada di posisi pertama dengan angka 28 persen. Berikutnya polisi 23 persen, dokter 21 persen, guru 18 persen, pengacara 15 persen, dan pekerja sektor keuangan 14 persen. Perawat berada di angka 11 persen, pekerja sosial dan jurnalis masing-masing 9 persen, sementara militer 8 persen.
Namun angka tersebut memiliki batasan penting.
Angka itu bukan berarti 28 persen politisi terbukti berselingkuh. Survei tersebut mengukur jawaban atau persepsi responden terhadap profesi yang dianggap rentan terhadap perselingkuhan.
Dengan kata lain, hasil tersebut lebih tepat dibaca sebagai gambaran persepsi masyarakat dan responden survei, bukan sebagai daftar resmi profesi yang paling banyak melakukan perselingkuhan.
Dokter dan perawat: ada penelitian yang lebih spesifik
Berbeda dengan survei berbasis persepsi tersebut, terdapat penelitian akademik yang secara khusus meneliti perselingkuhan di kalangan dokter dan perawat.
Penelitian yang melibatkan 367 dokter dan perawat menemukan bahwa 21 persen responden mengaku pernah atau sedang memiliki hubungan tidak setia. Mayoritas peserta penelitian adalah dokter.
Penelitian itu juga menemukan hubungan antara perselingkuhan dengan karakteristik pekerjaan tertentu. Responden yang bekerja pada jadwal darurat malam dilaporkan lebih sering ditemukan pada kelompok yang pernah melakukan perselingkuhan.
Temuan tersebut menarik karena menunjukkan bahwa persoalannya tidak sesederhana “profesi X lebih suka berselingkuh”.
Jam kerja yang panjang, tekanan pekerjaan, kelelahan, serta intensitas interaksi dengan rekan kerja dapat menciptakan kondisi yang berbeda dibandingkan pekerjaan dengan pola kerja yang lebih teratur.
Kantor juga bisa menjadi ruang tumbuhnya kedekatan
Perselingkuhan di tempat kerja bukan fenomena yang hanya muncul dalam cerita populer.
Penelitian mengenai hubungan antara komposisi gender di tempat kerja dan perselingkuhan menemukan bahwa semakin besar proporsi rekan kerja lawan jenis, semakin tinggi kemungkinan laki-laki dalam penelitian tersebut pernah melakukan perselingkuhan. Salah satu penjelasan yang diajukan adalah meningkatnya kesempatan bertemu dan berinteraksi dengan calon pasangan di luar hubungan utama.
Kondisi tersebut masuk akal jika melihat berapa banyak waktu yang dihabiskan seseorang di tempat kerja.
Rekan kerja dapat menjadi orang yang paling sering ditemui. Mereka menghadapi tekanan yang sama, menyelesaikan masalah bersama, makan bersama, melakukan perjalanan dinas, bahkan terkadang menghabiskan lebih banyak waktu bersama dibandingkan dengan pasangan di rumah.
Kedekatan yang awalnya bersifat profesional dapat berubah menjadi kedekatan emosional apabila batas hubungan tidak dijaga.
Profesi bukan penyebab tunggal
Penelitian mengenai hubungan perilaku pribadi dan perilaku profesional juga memberikan perspektif yang lebih luas.
Sebuah studi yang meneliti polisi, penasihat keuangan, eksekutif perusahaan, dan sejumlah kelompok profesional menemukan adanya hubungan antara perilaku perselingkuhan pribadi dengan perilaku profesional yang bermasalah dalam beberapa konteks. Namun penelitian tersebut tidak berarti setiap orang yang berselingkuh pasti melakukan pelanggaran profesional.
Temuan tersebut justru membuka diskusi mengenai hubungan antara karakter, pengambilan keputusan, lingkungan, dan perilaku seseorang.
Artinya, pekerjaan mungkin menyediakan kesempatan, tetapi keputusan untuk berselingkuh tetap berada pada individu.
Lalu, profesi apa yang paling sering berselingkuh?
Jika menggunakan survei populer sebagai indikator, jawabannya dapat berubah tergantung negara, tahun penelitian, metode survei, dan siapa yang menjadi responden.
Pada survei Illicit Encounters yang dipublikasikan pada 2026, sektor politik berada di posisi teratas berdasarkan persepsi responden. Sementara survei lain yang pernah diberitakan di Indonesia pada 2023 menempatkan bidang penjualan atau sales di posisi pertama dengan 14,5 persen, disusul pendidikan 13,7 persen dan tenaga kesehatan 12,5 persen.
Perbedaan tersebut menunjukkan satu hal penting:
Tidak ada bukti kuat bahwa satu profesi tertentu secara universal merupakan “profesi paling sering berselingkuh”.
Daftar tersebut dapat berubah karena metode penelitian dan karakter responden berbeda.
Mengapa pekerjaan tertentu terlihat lebih rentan?
Ada beberapa faktor yang berulang dalam literatur mengenai perselingkuhan di tempat kerja.
Pertama, kedekatan dan frekuensi interaksi.
Orang yang bekerja bersama setiap hari memiliki lebih banyak kesempatan membangun kedekatan dibandingkan orang yang jarang bertemu.
Kedua, tekanan dan stres.
Dalam pekerjaan dengan tekanan tinggi, seseorang dapat mencari tempat untuk mendapatkan dukungan emosional. Masalah muncul ketika dukungan tersebut berkembang melewati batas hubungan profesional.
Ketiga, jam kerja yang tidak teratur.
Shift malam, perjalanan dinas, lembur dan pekerjaan yang membuat seseorang jauh dari rumah dapat mengurangi waktu bersama pasangan sekaligus meningkatkan kesempatan berinteraksi dengan orang lain.
Keempat, kerahasiaan dan batas yang longgar.
Lingkungan yang memungkinkan seseorang memiliki ruang pribadi dengan rekan kerja dapat menciptakan kesempatan yang lebih besar untuk menyembunyikan hubungan.
Namun semua faktor tersebut bukanlah determinasi.
Seseorang dapat bekerja dalam lingkungan yang sangat memungkinkan terjadinya perselingkuhan dan tetap memilih setia.
Jangan jadikan profesi sebagai “red flag”
Menyebut dokter, guru, polisi, tentara, pekerja keuangan, sales atau profesi tertentu sebagai “profesi tukang selingkuh” tentu menarik sebagai judul berita.
Tetapi secara jurnalistik, klaim tersebut harus ditempatkan secara proporsional.
Sebab di balik angka statistik terdapat jutaan orang yang menjalankan profesinya dengan penuh tanggung jawab dan tetap menjaga komitmen terhadap pasangannya.
Karena itu, pertanyaan yang lebih tepat bukan “profesi apa yang paling suka selingkuh?”, melainkan:
“Kondisi pekerjaan seperti apa yang dapat meningkatkan kesempatan terjadinya perselingkuhan, dan bagaimana seseorang menjaga batas dalam hubungan profesional?”
Pada akhirnya, profesi hanya menggambarkan lingkungan seseorang bekerja.
Kesetiaan tetap merupakan pilihan pribadi.
Dan mungkin itulah kesimpulan paling penting dari berbagai penelitian tersebut: pekerjaan dapat menciptakan kesempatan, tetapi pekerjaan tidak menentukan keputusan seseorang untuk mengkhianati pasangannya.

